RISMANSA iKutan GIS...

Tanggal 10-11 Januari 2009 kemaren..


RISMANSA Metro ikutan Gema Islam Sman 3 (GIS)..


emm..


gak terlalu banyak sie pesertanya.

cuma tetep asik kok.

cuma sayang kita kemaren nggak ikutan nginep...

tapi nggak papa kok..


dan...


tau nggak,.,


kita dapet juara umum lho....................?

wua...

ini ni piala nya...
kita beruntung banged dapet piala ini..
ayo smansa,..RISMANSA!!
cayo..tahun depan kita rebut lagi..


Mau? Mau? Mau?
Bahasa Indonesia--Resensi "Salah Asuhan



Judul : Salah Asuhan
Nama Pengarang : Abdoel Moeis
Tahun Terbit : 4 Januari 1999
Cetakan Ke- : 26 (dua puluh enam)
Penerbit : Balai Pustaka
Tebal Buku : 271 halaman
Tempat Terbit : Jakarta

“Setinggi-tingginya kita bersekolah, jangan sampai kita melupakan tanah tempat pijakan awal kita.”
Sekiranya, itulah slah satu pesan yang tersurat dalam roman karangan Abdoel Moeis ini. Roman yang bersetting di Solok, Sumatra Barat, dan Betawi ini mengisahkan tentang kehidupan sekelumit rakyat Indonesia pada zaman pendudukan Belanda.
Setelah sekian tahun Belanda menjajah Indonesia dan memeras sumber daya alam dan manusia Indonesia, akhirnya Belanda membalas budi pada bangsa Indonesia, salah satunya adalah mendirikan sekolah-sekolah bagi rakyat Pribumi. Salah satu dampak dari pendidikan yang diberikan Belanda inilah yang menjadi salah satu tema dalam Roman Salah Asuhan ini.
Roman ini bercerita tentang Hanafi, seorang bumiputera asli yang sejak kecil dididik dalam sekolah bergaya Belanda. Waktu yang cukup lama mampu mengubah bahkan menghilangkan sifat ketimuran seorang Hanafi. Menjadi seorang yang bertingkah laku kebarat-baratan dan cenderung meremehkan bangsanya sendiri.
Di sini pula, Hanafi jatuh cinta pada seorang gadis peranakan Belanda-Indonesia, Corrie de Busse. Kebersamaan yang telah berjalan sejak mereka kecil telah menanamkan rasa cinta yang begitu dalam pada hati mereka.
Namun, cinta mereka harus kandas tanpa terikat oleh pernikahan. Di mulai dari sikap menjauh Corrie de Busse yang membuat Hanafi kecewa, hingga akhirnya Hanafi menerima istri pemberian Ibunya, Rapiah, sekedar untuk membayar hutang budi pada pamannya. Dari pernikahan ini, lahirlah Syafei, yang sungguh sama sekali tidak mendapat perhatian penuh dari Ayahnya.
Karma pernikahan yang sesungguhnya tidak diinginkan itu, ditambah pula cinta Hanafi yang sedemikian besar pada Corrie, membuat Hanafi akhirnya menjemput Corrie ke Betawi – dengan alas an berobat - dan menikahi Corrie. Ia meninggalkan begitu saja Rapiah dan Syafei serta Ibunya di Solok.
Pernikahan Corrie dan Hanafi yang diawali dengan cinta ini pun akhirnya berakhir mengenaskan. Di mulai dengan awal pernikahan yang hambar, ditambah Hanafi menuduh Corrie sesuatu hal yang buruk, hingga Corrie pun pergi entah ke mana. Selama satu tahun lebih, tidak dapat terjalin komunikasi di antara mereka.
Roman ini dibalut dengan unsur sastra, budaya, dan kritik terhadap “Sikap Kebarat-baratan” yang kental. Abdoel Moeis meramu semua ini dengan begitu cantiknya, ditambah pula dengan tambahan bahasa Belanda dan pantun-pantun yang menarik. Alur cerita dalam roman ini juga sangat menarik hingga pembaca tidak akan bosan membaca roman tersebut.
Nasihat orang tua, keinginan yang begitu besar tanpa mengindahkan apa kata orang menjadi batu sandungan tentanfg kenapa semua peristiwa tersebut terjadi pada Hanafi dan Corrie. Berikut salah satu kutipan nasihat Ayah Corrie kepada Corrie, ketika Corrie berbicara tentang kemungkinan wanita Belanda menikah dengan pria bumiputera,
"Kawin campuran itu sesunguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga Corrie ! Karena masing-masing manusia dihinggapi oleh suatu penyakit kesombongan bangsa. Sekalian orang, masing-masing dengan perasaannya sendiri, menyalahi akan bangsanya, yang menghubungkan hidup kepada bangsa yang lain, meskipun kedua orang menjadi suami-istri itu sangat berkasih-kasihan.”
Di dalam roman ini juga diajarkan bahwa ajaran agama tak boleh ditinggalkan walau telah berpendidikan tinggi. Karena itulah yang akan membawa kita selamat dunia dan akhirat.
Roman ini nyaris tidak mempunyai kekurangan. Percampuran bahasa Melayu dan Belanda yang ada memang cukup memusingkan, apalagi bagi anak remaja –dan dewasa- jaman sekarang. Di mana bahasa Melayu sudah sangat jarang dipakai. Namun, sesungguhnya tak ada kesalahan dalam roman ini.
Abdoel Moeis memang seorang penulis yang imajinatif. Awal roman yang indah, jalan cerita yang menarik, ditutup dengan akhir yang tragis namun dengan bahasa yang indah, sehingga seolah-olah pembaca tidak merasa bahwa Hanafi melakukan perbuatan dosa.
Akhir pada novel ini dimulai dengan penyesalan Hanafi, seperti yang tertulis dalam kutipan ini,
“Tahulah Hanafi sekarang; Rapiah, intan yang belum digosok. Sayang, ia tak pandai menggosoknya hingga barang yang berharga itu dibuang-buang, disangkanya tidak berharga.
Corrie berlian yang sudah digosok, harganya tidak ternilai-nilai, tapi si suami yang celaka tak pandai memakainya dan enyahlah harta itu dari kandungannya. Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga.”
Hingga akhirnya, pemutusan nyawa yang dipaksa pun menjadi penutup yang indah bagi roman ini.

Mau? Mau? Mau?

Di bawah ni..

da naskah drama pas pelajaran bahasa indonesia kemaren...

berhubung ga semped ngupload,,,di paste aja la...

Permainan Caleg[1]

By : Aika Nur Azizah

Drama ini merupakan drama lima babak. Drama ini pernah dipentaskan oleh siswa-siswi kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Kota Metro TP 2008/2009 dalam rangka pemenuhan Standar Kompetensi Drama, mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pemeran : 1. Kang Karso Nelongso Kusumo Bejo
2. Ndoro Kangkung, Istri Kang Karso
3. Warsih Podomoro, anak Kang Karso
4. Nyamat Kali Jontor Di Muka
5. Diah Petok-Petok, Istri Nyamat Kali
6. Nyi Rek Rek, anak Nyamat Kali
7. Mbah Kunti Chikatetsu BBAAMPS
8. Miriam de Miringtong, pembantu Mbah Chika
9. Narator
10. Pemeran pembantu sebagai warga dan penjaga TPS

Prolog: Tersebutlah di suatu desa bernama Ing Krapyak Klalang Kliling, hidup dua keluarga yang rumahnya bersebelahan. Yang seorang bernama Kang Karso Nelongso Kusumo Bejo yang bekerja sebagai Rentenir Bunga Tinggi tapi Nggak Makmur Kapok! Sementara, tetangganya bernama Nyamat Kali Jontor Di Muka bekerja sebagai mantri yang kehidupannya boleh dibilang makmur. Keduanya sama-sama menjadi calon legislatif untuk daerah pemilihan mereka.

Babak I : Sore hari yang cerah, di rumah Kang Karso, istri dan anak Kang Karso sedang duduk-duduk di ruang keluarga saat Kang Karso pulang dari menagih hutang.

Kang Karso : (sambil mengipas-ngipas) Aduh, capek sekali rasanya Akang. Sudahkah Dinda menyiapkan makanan untuk Akang?
Warsih : (sambil mengerjakan PR) Makan...makan mulu pikirannya. Makan aja tu pajangan keramik!
Ndoro Kangkung : (berhenti mengupas bumbu) Makan aja ni bumbu! Nggak ada yang mau dimasak Kang! (terdiam sebentar) Kang...sampai kapan si kita mau kayak gini terus? Dinda capek Kang..capek! Coba tuh Akang liat, tetangga sebelah. Masak tadi pamer-pamer kipas baru! Katanya, ”Ini dari sutra lo jeng, dihiasin mutiara dari laut langsung!” Huh, memangnya ada apa mutiara dari kali? Itu mah pasir kale...! Eh Kang...
Kang Karso : Hah?
Ndoro Kangkung : Denger-denger, si Nyamat Kali Jati JONTOR Di Muka itu nyalon jadi caleg Kang! Akang gak mau jadi caleg juga? Lumayan Kang, gajinya....(menggerakkan jari-jarinya di depan wajah)
Kang Karso : Apa? Caleg? Calon Enggak Nggenah?
Warsih : Iih,,susah deh punya Ayah LOLA. Masak caleg aja nggak tau! Calon legislatif Yah...!
Kang Karso : Ooh..iya toh?
Warsih : Capek deh..
Ndoro Kangkung : Kang, pokoknya kita nggak boleh kalah dari si Nyamat Kali itu! Tunjukin dong Kang kalo Akang juga bisa jadi caleg! Lagian juga, kan partai Bolo Bolo Jadi itu kan udah mau ngelamar Akang.
Warsih : Ngelamar? Ibu rela nih diduain?
Ndoro Kangkung : Hus, diem kamu! Ganggu aja!
Kang Karso : Em...iya ya. Betul juga kamu Dinda. Tapi, si Nyamat Kali itu juga lumayan terkenal, dia berat juga buat dilawan. Minta bantuan siapa ya?
Warsih : (bernyanyi) Ada mbah dukun...
Kang Karso : (Menepuk kedua tangannya) O iya! Pinter kamu Sih. Emm...jadi gini, besok kita kasih tahu ke warga kalau Kang Karso Nelongso Kusumo Bejo mau jadi caleg. Terus, kita nanti minta bantuan Mbah Dukun buat ngalahin si Nyamat Kali JONTOR Di Muka itu! (diam sebentar) Dinda, makanannya udah jadi?
Ndoro Kangkung : (merengut) Udah nih, makanan kambing!

Babak II : Siang hari itu, di lapangan Conggok Gosok Aja, warga sedang ramai berkumpul. Rupanya, Kang Karso sedang mengumumkan kepada warga bahwa dirinya menjadi caleg.

Kang Karso : Jadi para warga Ing Krapyak Klalang Kliling sekalian setanah seair, dengan hormat, Kang Karso Nelongso Kusumo Bejo, keturunan Patih STM Gajah Mada, mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif tahun 2009-2014. Saya sangat berharap nantinya para warga akan memilih saya.
Warga I : Tapi Kang Karso, keponakan saya, paman saya, kakek saya, nenek saya, cucu kakek saya, cucu nenek saya, kakak saya juga udah nyaleg Kang...
Kang Karso : Ya makanya itu...pilih saya aja. Kan gak nepotisme. Iya to? Tenang aja, nanti bunga utang diturunin, jadi 20%...

Tiba-tiba seorang Ibu beserta anaknya menerobos ke depan Kang Karso. Rupa-rupanya, wanita itu adalah istri Nyamat Kali, yaitu Diah Petok-Petok.

Diah Petok : (berlogat Batak) Hah? Orang kayak kamu Karso mau jadi caleg? Kerja kamu kan cuma nagihin duit. Mana pantes jadi caleg. Kayak suami saya dong, mantri! Dari namanya saja, bentar lagi pasti jadi menteri.
Kang Karso : Halah...suamimu itu bisa apa? Nyuntik doang to? Heleh, paling-paling jadi Kementrian Dunia Hewan.
Nyi Rek Rek : Dasar Bapak nggak tau aja. Bapak saya itu orang hebat la.
Kang Karso : Wo...tak lempar sepatu kamu. Kecil-kecil ngelawan.
Nyi Rek Rek : (bersembunyi di belakang ibunya) Udah yok Bu, panas pula jadinya tempat ini.
Diah Petok : Iya Nak. Rusak pula nanti kipas sutera ibu!

Babak III : Malamnya, di rumah Nyamat Kali, Nyamat Kali beserta istri dan anaknya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV.

Nyamat Kali : (sambil memencet remote TV) Kenapa pula kau ini Diah? Kusut kali muka kau!
Diah Petok : Ya gimana nggak kesel Pah. Si Karso itu ternyata punya nyali juga, nyalon jadi caleg.
Nyi Rek Rek : Iya Pah. Masa pula dia tadi kata Papah cuma bakal jadi Menteri di Dunia Hewan!
Nyamat Kali : (mengalihkan perhatian dari TV) Apa? Nyalon pula? Bah..semakin sempit pula peluangku duduk di Senayan. Huh! Kita harus cari cara biar dia kalah.
Nyi Rek Rek : Sama orang pinter Pah. Sukun..eh, Dukun! Mmm..lupa pula saya namanya. (berpikir sebentar) Oh ya Pah, namanya Mbah Kunti Chikatetsu Buhul Buhul Ayam Aje Mengan Pitik Sebendino. Wuih, susah kali namanya. Lulusan UNPAD pah!
Diah Petok : Gimana pula kau ini Rek! Dukun kok lulusan UNPAD!
Nyi Rek Rek : Bukan Universitas Padjajaran Mah, tapi Universitas Ahli Dukun!
Nyamat Kali : (mengangguk-angguk) Hm..iya iya. Besok jam satu siang Papah bakalan ke sana. Udah, sekarang kita tidur aja.

Babak IV : Pagi yang cerah, Kang Karso telah tiba di sebuah rumah, yang menurut informasi yang diterimanya, itu adalah rumah Mbah Kunti Chikatetsu Buhul Buhul Ayam Aje Mengan Pitik Sebendino, dukun terkenal dari Gua Kongkalingkong Banyak Kingkong. Kang Karso berencana meminta bantuannya untuk mengalahkan Nyamat Kali dalam Pemilu 2009 nanti.

Kang Karso : (terengah-engah, bicara sendiri) Hah..hah..jauh amat si ini rumah. Dah tau juga saya nggak punya motor, jadi rumah kok jauh-jauh. Bikin kesel aja. Kalo sampe ini Mbah nggak ada, wuih...tak letusin Gunung Merapot.
Miriam : (muncul tiba-tiba di depan pintu) Heh, enak aja. Mbah Chikanya ada tau! Tapi tunggu sebentar, dia lagi mandi shower.
Kang Karso : Hah, mandi shower? (menggelengkan kepalanya) ck ck ck... Mbah ini ternyata modern juga. Rumah saya aja cuma keran plastik!

Miriam : (menggerakkan jari telunjuknya di depan wajah sambil menggelengkan kepala) Bukan...bukan Mas, bukan modern, tapi G-A-U-L!
Kang Karso : (mengangguk-angguk) Oh, iya mbok. Iya.
Miriam : Eh, enak aja panggil Mbok. Panggil Akika Jeng Miriam.
Mbah Chika : Iyem.....suruh tamuku masuk! Aku sudah tahu dia mau apa.
Miriam : (menunjukkan muka kesal) Iya Mbah, Akika akan membawanya ke ruangan Mbah

Kang Karso dan Miriam berjalan menuju ruangan Mbah Chika. Bau kemenyan dan bunga kamboja menyeruak. Kang Karso dan Miriam pun masuk.

Miriam : (menunjukkan muka kesal) Mbah ini gimana sih, saya kan nggak mau dipanggil Iyem. Miriam Mbah, Miriam!
Mbah Chika : Ooh..nggak mau ya? Emm...gimana kalo..Miring! Ah,,iya iya, Miring! Nama kamu kan Miriam de Miringtom.
Miriam : Iih, mbah ini bikin kesel Akika aja. Udah ah, Akika pergi aja!
Kang Karso : (duduk) Mbah, mbah bener-bener udah tau saya ke sini mau apa mbah?
Mbah Chika : Ho...mainan ini. Pake belum tau segala. Saya kan manusia toko serba ada dari Gua Kongkalingkong Banyak Kingkong. Oh, ya sebelumnya perkenalkan, nama Mbah, Mbah Kunti Chikatetsu Buhul Buhul Ayam Aje Mengan Pitik Se...Se..
Kang Karso : Sebendino kan Mbah?
Mbah Chika : (terbelalak, lalu berdiri menggertak meja) Dilarang menyela Mbah Dukun. Sekali lagi kamu melakukan itu, kamu diancam pasal 5015 UU yang dibuat IDP, Ikatan Dukun Profesional, yaitu hukuman membersihkan keris ayam jago selemari saya selama setahun. Perlu diketahui, keris ayam jago saya itu mengeluarkan kotoran setiap 5 menit sekali.
Kang Karso : (menelan ludah, ketakutan) Iy..iya Mbah. Saya nggak akan nyela lagi.
Mbah Chika : OK. Saya ini lulusan S25 UNPAD, liat aja gelar saya Mbah Kunti Chikatetsi Buhul Buhul Ayam Aje Mengan Pitik Sebendino S.Pd, SE, S.Si, Sss........Sampe Puas.
Kang Karso : XL Mbah.
Mbah Chika : Iya, bener kamu. Saya ini juga ketua IDP, jadi jangan pernah ragu akan kemampuan saya.
Kang Karso : Tapi kok saya nggak pernah ngeliat Mbah ya. Di iklan-iklan yang ketik REG BLA BLA BLA, kirim ke 0000
Mbah Chika : Wo...mainan ini. Saya ini lebih terhormat daripada itu. Di belakang layar...di belakang layar gitu loh...!
Kang Karso : Bener-bener Mbah Ini. Em...jadi begini Mbah, saya ke sini buat...
Mbah Chika : Mbah udah tahu! Kamu ke sini buat ngasih makan ayam saya kan?
Kang Karso : (terkaget, melongo) hah? Waduh Mbah, bukan. Mbah salah paham, saya ke sini mau minta bantuan Mbah biar bisa menang dari Nyamat Kali saat pemilu 2009 nanti Mbah.
Mbah Chika : Mm...tungu (meraba-raba bola ajaib) mmm.....mmm...waduh, waduh, gawat ini! Syaratnya berat sekali. Saya nggak yakin kamu bisa penuhin.
Kang Karso : Apapun syaratnya Mbah, minumnya teh botol sosro. Eh, salah mbah, maksudnya saya pasti penuhin.
Mbah Chika : Oke, syarat yang pertama, Ayam!
Kang Karso : Ayam apa mbah? Ayam cemani? Ayam kalkun? Apa ayam ras?
Mbah Chika : Ooh..nggak..nggak! nggak banget si kamu ini. Saya mah maunya cuma ayam KFC! Jangan lupa sama pepsinya. Mmm...o ya, saya juga lagi pengin kucing. Bosen saya sama ayam. Jangan lupa ya, kucing Persia, yang bulunya ijo.
Kang Karso : (melongo tak percaya) Mbah, beneran itu syaratnya? Mbah nggak bercanda kan? Mbah modern amat sih?
Mbah Chika : (menggelengkan kepala) Salah, bukan modern, tapi G-A-U-L. Terang aja saya nggak bohong. O ya, terus bulan depan Chelsea mau ngelawan Newcastle United di Stamford Bridhe. Jadi jangan lupa tiket ke London 2 ya.
(musik:lagu Hijrah ke London, The Changcuters)
Kang Karso : Trus Mbah, saya bisa dapet apa?
Mbah Chika : (mengambil setumpuk kertas kecil) sebentar, saya jampi-jampi dulu. Miring........tolong ambilin alat jampi-jampi Mbah.
Miriam : Ni Mbah. Lengkap semuanya, nggak pake bon ya.
Mbah Chika : (mendekat ke telinga Miriam, berbisik) hussh..jangan keras-keras. Ntar ketauan kalo kita ngebon di warung sebelah. (mengalihkan perhatian, lalu memakai topi) tes..tes..satu..dua..tiga. Ok! (Ngerap, diselingi musik) Buuh....(menyerahkan kertas ke Kang Karso) Ini!
Kang Karso : (menerima denga wajah bingung) Ini jelas saya bisa menang kan ?
Mbah Chika : Ow..jelas, kamu nanti tinggal tempel aja di rumah warga. Dijamin, warga nanti bakalan terpengaruh buat milih kamu.
Kang Karso : O..oke Mbah. Matur nuwun Mbah. Matur nuwun (beranjak pergi).
Mbah Chika : (terbelalak) Heh....mau ke mana kamu? (menggesek-gesekkan jarinya) fulus cui...fulus..
Kang Karso : (berbalik) berapa Mbah? Saya cuma punya 500 ribu sekarang.
Mbah Chika : (menyerahkan selembar kertas) Ooh..nggak perlu. Ini aja.
Kang Karso : (terbelalak) Seratus sembilan belas juta delapan ribu tiga ratus sembilan puluh rupiah? Aduh, mbah. Nggak ada uang kecil, ngapa nggak sekalian dibuletin seratus dua puluh juta aja mbah?
Mbah Chika : (memukulkan hio ke meja) Goblok! Itu nomor rekening kunyuk! Bukan jumlah uangnya. Cukup transfer 7 juta aja ke situ. Saya tunggu nanti sore.
Kang Karso : (beranjak dari kursinya) Iya mbah, iya. Saya pergi mbah.
Mbah Chika : Ya udah sana!

Jam satu siang, giliran Nyamat Kali yang datang ke rumah Mbah Kunti Chikatetsu.

Nyamat Kali : (mengetuk daun pintu yang terbuka) Assa...
Miriam : (tiba-tiba muncul) Hayo...pasti masalah caleg juga kan? Akika tau, kamu pasti mau nemuin Mbah. Masuk dulu. Mbahnya lagi makan ayam KFC. Saya tinggal di sini dulu ya, soalnya saya juga mau makan.
Nyamat Kali : Iya..Iya..Nyi.

Tak lama kemudian, Miriam datang lagi dan menyuruh Nyamat Kali mengkutinya ke ruangan Mbah Chika, ternyata Mbah Chika lagi komat-kamit.

Nyamat Kali : (duduk) Wah, mbah memang hebat. Kapanpun selalu berdzikir.
Mbah Chika : (terbelalak) Bodoh, saya ini lagi bersihin sisa-sisa ayam yang nyangkut di gigi (memasukkan lidi ke mulut). Hm...kamu ingin ngalahin Kang Karso kan?
Nyamat Kali : (mengangguk-angguk) iya Mbah, iya.
Mbah Chika : Kalau begitu, syarat pertama. Hm...tadi ayam udah. Oh ya, sekarang kamu beliin saya hamburger dua porsi aja.
Nyamat Kali : Hah? Aduh mbah ini gawat. Itu fast food Mbah, gak baik buat kesehatan.
Mbah Chika : Oh, masaknya cepet ya itu. Kalo gitu yang lama aja. Rendang padang ajalah, persediaan seminggu. Jangan lupa Vinetta Brownies ya. (berpikir lagi) tadi kucing udah, o ya, bentar lagi kan lebaran haji, tolong beliin saya kambing. Mm...domba australi aja lah. Yang mahalan.
Nyamat Kali : Itu Mbah?
Mbah Chika : Iya! Terus satu lagi. Saya sama Miring kan lagi pengin liburan. Tolong beliin dua tiket ke Hawaii ya. Itu aja kok syaratnya.
Nyamat Kali : (masih tak percaya) Iya Mbah, terus apa yang bisa saya lakukan Mbah?
Mbah Chika : (mengambil sesuatu dari dalam kotak) Hmm...ini serbuk yang bisa membuat Kang Karso keliatan jelek, suka marah-marah. Pokoknya nyebelin, jadi nggak ada yang mau milih dia. Campurin aja ke minumannya. Tapi inget, ngasihnya harus pas bulan sabit.
Nyamat Kali : Cuma ini mbah? Wah wah, segini aja mahal amat si mbah?
Mbah Chika : Ho..ini termasuk murah. Sebenernya saya bisa ngasih kamu ramuan yang bisa bikin semua orang nurutin kata-kata kamu. Tapi..
Nyamat Kali : Tapi apa mbah?
Mbah Chika : 5 juta!
Nyamat Kali : (kaget) 5 juta mbah? Astaghfirullah mbah, ini mah meres namanya.
Mbah Chika : Meres? Baju kali diperes? Ya udah kalo nggak mau.
Nyamat Kali : Oh, ya udah mbah, kebetula ini udah ada uangnya kok mbah.
Mbah Chika : (menggerakkan tangannya) oh, nggak perlu cash. Di sini nggak aman. Transfer aja ke sini (menyerahkan selembar kertas).
Nyamat Kali : (mencibir) Yee...mbah, di bak juga nggak aman. Ntar dibawa kabur sama pemiliknya Mbah.
Mbah Chika : Oh..iya tah? Ya udah, sini cash aja.
Nyamat Kali : (menyerahkan uang) ini mbah!
Mbah Chika : Sudah sana pergi. Saya mau ngerap dulu.
Nyamat Kali : Hah? Ngerap Mbah?
Mbah Chika : iya lah, itu kan cara baru jampi-jampi.
Nyamat Kali : Wah, mbah betul-betul modern.
Mbah Chika : (menggelengkan kepalanya) bukan...bukan modern, tapi G-A-U-L
Nyamat Kali : Oh, iya mbah.
Mbah Chika : Sudah sana!

Selepas Nyamat Kali pergi, Miriam masuk ke ruangan Mbah Chika sambil mencari-cari sesuatu.

Miriam : (mengoceh sendiri) Kayaknya tai Akika tauh sini geh. (merogoh isi kotak) kok nggak ada ya? Aduuh, alamat item nih.
Mbah Chika : (menghentikan rapnya) Ngapa to Ring?
Miriam : Aduh Mbah, Akika keilangan jamu kuning langsat sama jamu singset Mbah. Tadi Akika taruh sini kok.
Mbah Chika : Ooh, yang warna kuning itu ya?
Miriam : (mengangguk) Iya Mbah.
Mbah Chika : Ehm..tadi itu udah Mbah kasihin ke Nyamat Kali. Mbah bilang, ramuan buat menang tuh.
Miriam : Dasar Mbah geblek!



Babak V : Setelah pulang dari rumah Mbah Chika, Kang Karso dan Nyamat Kali pun segera melaksanakan aksinya. Tengah malam Kang Karso keliling untuk menempelkan stiker dari Mbah Chika.

Kang Karso : (bicara sendiri) Dasar si Nyamat Kali JONTOR Di Muka! Liat aja nanti, semua orang bakalan milih Kang Karso. Termasuk keluarga kamu. Nih...tak kasihin yang banyak. Biar puass..

Sementara itu, diam-diam Nyamat Kali membuat ramuan dari Mbah Chika dan menaruhnya di meja teras Kang Karso pada saat bulan sabit.
Nyamat Kali : (bicara sendiri) Nih rasain! Muka kau jadi jelek rupa nanti. Hehhehe, tak apalah tadi saya tambah jus stroberi. Biar kamu seneng dahulu, lalu MAMPUS! Hahaha..

Akhirnya, tibalah hari pemilihan. Setelah mencoblos, Nyamat Kali dan Kang Karso duduk di TPS menanti hasil pemungutan suara. Namun, mereka kaget karena nama Mbah Chika terpampang di papan hasil pemungutan dan terus-terusan meraih suara.

Nyamat Kali : Bah, kenapa pula suara untuk dia terus. Bagaimana pula ini?

Tak lama kemudian, Mbah Chikatetsu datang. Wajahnya sumringah melihat papan hasil pemungutan suara.
Mbah Chika : (duduk di dekat Kang Karso dan Nyamat Kali) Wah, menang besar rupanya aku hari ini.
Penjaga TPS : Dan peraih suara terbanyak adalah Mbah Kunti Chikatetsu Buhul Buhul Ayam Aje Mengan Pitik Sebendino! (disambut tepuk tangan hadirin)
Kang Karso : (berdiri) Mbah, ini nggak adil Mbah. Kata Mbah, saya sudah jelas menang!
Mbah Chika : Loh, yang bilang jelas menang itu siapa? Saya kan cuma bilang JELAS. Maksudnya itu JELAS KALAH.
Nyamat Kali : (merangsek maju) Iya Mbah, katanya Kang Karso pasti kalah. Gimana si mbah. Gak tokcer ramuannya.
Mbah Chika : Ya jelas to. Dia kalah kan sama saya?
Kang Karso dan Nyamat Kali : Mbah, kami nggak terima. Kembaliin duit kami Mbah!
Mbah Chika : Yaah, that’s your problem. Kebetulan saya sudah dijemput buat pergi ke London. Abis itu ke Hawaii. Makasih ya tiketnya. (berlari masuk ke dalam mobil)
Kang Karso dan Nyamat Kali : (mengejar) Mbah...................!

Peralatan yang dibutuhkan :
- Penggaris sebagai pisau
- Bawang-bawangan atau cabe-cabean
- Kipas
- Bola kecil
- Topi
- Microfone
- Lidi
- Rumput-rumputan
- Kertas-kertas kecil
- Kotak kecil
- 2 bks serbuk
- Papan tulis

Lagu yang dibutuhkan :
- Hijrah ke London (The Changcuters)
- Warrior’s Descendant (H.O.T), namun bisa digunakan lagu Rap yang lain

[1] Judul revisi. Judul pertama : Sakitnya Ditusuk Dari Belakang

Mau? Mau? Mau?
Kenalan duLu....sMansa..

---walau foto ini bukan menunjukkan foto yang sekarang..tapi..---

  • Pada awalnya berdirinya SMA Negeri 1 Metro berstatus sebagai Sekolah Persiapan Tingkat Atas.

  • Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pusat Bagian Kursus Sekolah Jakarta Nomor : 22/SK/B.III/1959 tanggal 11 Juni 1959, menjadi Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Metro

  • Gedung utama sekolah dibangun tahun 1962 hasil gotong royong masyarakat diatas tanah seluas 19.965 m2

  • Mulai tahun 2006 SMA Negeri 1 Metro ditunjuk sebagai salah satu sekolah pelaksanan Program Rintisan Sekolah bertaraf Internasional dengan Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMA Nomor: 802.a/C4/MN/2006. dikuatkan dengan Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMA Nomor: 564.a/C4/MN/2007

VISI

DISIPLIN, UNGGUL, DILANDASI IMAN DAN TAQWA (DIGUL IMTAQ)

MISI

  • Mengembangkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepribadian dalam kerangka ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui berbagai kegiatan kesiswaan, baik melalui organisasi siswa, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan lain yang berakar pada budaya bangsa.

  • Mengembangkan kompetensi akademik maupun non-akademik yang berkualitas mengarah pada standar nasional dan internasional dengan menerapkan dan mengembangkan kurikulum nasional yang diadaptasikan dengan kurikulum internasional.

  • Mengembangkan proses pembelajaran yang bermutu, efektif dan dinamis dengan memanfaatkan sumber belajar yang inovatif dan kontektual.

  • Mengembangkan sikap kompetitif yang sportif melalui berbagai bidang dan kesempatan dengan mengede-pankan semangat keunggulan dan semangat kebangsaan.

  • Mengembangkan kultur sekolah yang sesuai dengan norma keagamaan, norma sosial-kemasyarakatan, dan norma kebangsaan dalam suatu sistem yang harmonis dan saling mempercayai.

TUJUAN

Mempersiapkan siswa untuk menjadi manusia yang berkualitas dengan karakteristik :

  • Beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta mempunyai kepribadian dan integritas kebangsaan yang tinggi.
  • Berfikir kritis dan kreatif dan bertanggung jawab.
  • Menguasai Teknologi untuk dapat mengembangkan studinya.
  • Berwawasan global dan Mampu berkomunikasi secara efektif dan efesien pada aras global.
  • Mampu belajar mandiri dan mengembangkan potensi diri.

Mau? Mau? Mau?
bUad aPpa bLog iNni?

ehm,...
ehm.,.

---PERHATIAN---

Blog ini--yang ini ajah--khusus buat ngelipud (ce ilah ngelipud)...
kegiatan2 di sekolah ane...

hehe,,,di sMansa lu cui.,...
tunggu aJe ea berita selanjutnya....

Mau? Mau? Mau?